Hai Bun Selamat datang di halodokterku.com. Semoga artikel ini mampu menambah pembelajaran kita tentang informasi kesehatan tentang Berbagai Risiko yang Mungkin Timbul Akibat Aborsi • Halodokterku.

Aborsi, mungkin Anda sering mendengar kata ini dan langsung berpikiran negatif. Namun, jangan salah, aborsi tidak selalu negatif. Mengapa?

Aborsi adalah akhir kehamilan. Ada dua jenis aborsi berdasarkan penyebab, yaitu aborsi disengaja (aborsi yang diinduksi) dan aborsi tak disengaja (aborsi spontan). Keguguran ini seperti aborsi, di mana kematian janin terjadi sendiri dan biasanya disebabkan oleh masalah medis. Sementara itu, aborsi yang disengaja masih menjadi kontroversi dari sudut pandang medis dan moral.

Aborsi di Indonesia

Hanya di Indonesia, aborsi yang disengaja adalah tindakan ilegal dan ilegal. Aborsi ilegal dapat dikutuk di bawah KUHP terkait dengan kejahatan terhadap kehidupan. Ibu yang melakukan aborsi, orang atau tenaga medis yang membantu ibu melakukan aborsi, dan orang yang mendukung tindakan ini dapat dihukum.

Ketentuan aborsi yang diizinkan di Indonesia

Berdasarkan peraturan pemerintah No. 16 tahun 2014 terkait kesehatan reproduksi, aborsi dilarang dan hanya diizinkan dalam kondisi tertentu, seperti:

  • Indikasi kedaruratan medis, seperti kehamilan yang mengancam kehidupan dan kesehatan ibu dan janin
  • Kehamilan karena pemerkosaan (itu bisa dilakukan hanya jika usia kehamilan paling banyak 40 hari dihitung dari hari pertama menstruasi terakhir)
Baca Juga  Growth Spurts – Jangan Khawatir Ketika Bayi Rewel Mendadak dengan Intensitas Sering!

Peraturan PP ini sebagai aborsi harus dilakukan dengan benar karena beberapa hal dan bagaimana aborsi dilakukan dengan aman dengan bantuan dokter. Dengan PP ini, aborsi diharapkan tidak lagi dilakukan secara sembarangan dan juga dapat mengurangi jumlah kehamilan di luar pernikahan atau kehamilan yang tidak diinginkan.

30% kematian ibu disebabkan oleh aborsi

Sebagian besar aborsi di Indonesia disebabkan oleh kehamilan yang tidak diinginkan atau kehamilan yang terjadi di luar nikah, sehingga aborsi terjadi secara ilegal. Banyak praktik aborsi ilegal di Indonesia menggunakan peralatan dan metode improvisasi yang seharusnya tidak mereka lakukan. Akibatnya, sebagian besar aborsi ilegal berdampak negatif pada kesehatan perempuan dan bahkan dapat menyebabkan kematian. Berdasarkan data dari Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2008, kematian akibat aborsi mencapai 30% dari 228 per 100.000 kelahiran hidup dari kematian ibu (AKI).

Ini berbeda dengan negara-negara yang melegalkan aborsi, seperti Amerika Serikat, di mana aborsi dilakukan dengan aman dan dengan bantuan dokter, sehingga komplikasi sangat jarang terjadi.

Baca Juga  4 Tips Mudah Nan Ampuh Mengusir Jerawat Setelah Melahirkan

Bagaimana dengan aborsi di negara yang melegalkan aborsi?

Di negara-negara yang melegalkan aborsi, aborsi dilakukan dengan bantuan medis. Ada dua cara untuk menggugurkan, yaitu dengan obat-obatan dan pembedahan, seperti aspirasi atau pelebaran dan evaluasi (D&E). Ini tergantung pada usia kehamilan Anda. Jika perut Anda memiliki lebih dari 9 minggu, aborsi bedah adalah satu-satunya pilihan. Ini dilakukan dengan dokter bersertifikat, sehingga aman untuk dilakukan dan itu bukan sesuatu yang dilakukan sembarangan.

Apa kemungkinan efek dari aborsi?

Risiko aborsi pada trimester kedua kehamilan lebih tinggi daripada pada trimester pertama kehamilan. Beberapa risiko utama aborsi adalah:

  • Infeksi rahim, dapat terjadi setiap 1 dari 10 aborsi dilakukan. Infeksi ini biasanya dapat diobati dengan antibiotik.
  • Kehamilan yang tersisa di dalam rahim biasanya terjadi karena aborsi tidak dikelola oleh tenaga medis bersertifikat, misalnya dalam aborsi yang dilakukan secara ilegal oleh seorang dukun bayi atau oleh seseorang yang mengaku sebagai pekerja medis, atau karena aborsi dilakukan dengan menggunakan narkoba. Ini dapat terjadi setiap 1 dari 20 episode aborsi. Perawatan lebih lanjut diperlukan untuk mengatasi ini.
  • Kehamilan berlanjut, mungkin ada kurang dari 1 setiap 100 kasus aborsi.
  • Pendarahan hebat, setiap 1 dari 1000 peristiwa aborsi dapat terjadi. Pendarahan hebat mungkin memerlukan transfusi darah.
  • Kerusakan pada serviks (leher rahim), setiap 1 dari 100 episode aborsi yang dilakukan dengan pembedahan dapat terjadi.
  • Kerusakan rahim, yang terjadi setiap 1 dalam 250 hingga 1000 aborsi yang dilakukan pembedahan dan juga terjadi pada kurang dari 1 dalam 1000 aborsi yang dilakukan dengan obat-obatan pada usia kehamilan 12-24 minggu.
  • Dan, berbagai efek psikologis pada wanita yang telah diaborsi.
Baca Juga  Flek Darah Saat Hamil Muda Tidak Selalu Tanda Keguguran

Dari berbagai risiko di atas, orang dapat melihat bahwa aborsi dilakukan secara ilegal atau legal (menggunakan obat-obatan atau pembedahan), yang keduanya dapat menimbulkan risiko bagi kesehatan ibu. Tidak ada yang tidak yakin apakah Anda akan melakukan aborsi, kecuali jika kehamilan mengancam hidup Anda atau bayi Anda.

BACA JUGA

Semoga info kesehatan ini bisa memberi manfaat untuk siapapun yang butuh informasi mengenai Berbagai Risiko yang Mungkin Timbul Akibat Aborsi • Halodokterku.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here